Dan kadang aku menunggu seorang bidadari. Dan ternyata aku melihat bidadari itu sekarang.

        Aku melihat Ukhti Khairunnisa duduk dengan anggun membaca sebuah buku. Buku apa yang sedang ia baca? Aku merasa penasaran. Aku mengintip judul buku yang sedang dia baca. Ternyata buku itu berjudul “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu” karyanya Tere Liye.

        “Rembulan, wajahmu, Tere Liye.” Ucapku mengingat­ingat kata kunci untuk mencari buku itu.

        Segera aku menelusuri rak­rak buku. Aku mengira­ngira buku itu adalah sebuah novel, jadi aku langsung mendatangi rak buku yang khusus untuk novel. Kucari novel Tere Liye yang judulnya sama dengan yang dibaca Ukhti Khairunnisa. Aku menemukannya.

        Dengan perasaan senang aku menuju tempat duduk khusus untuk membaca di sini sambil membawa novel Tere Liye yang kudapatkan. Aku duduk di depan Ukhti Khairunnisa. Kini kami hanya berjarak dengan meja persegi empat yang panjang dan lebar. Aku membuka halaman pertama cerita dalam novel itu. Aku melirik wajah Uhkti Khairunnisa. Wajah cantik itu tidak menyadari kalau aku memperhatikannya.

        Aku mulai membaca novel itu dari kalimat pertama, disusul yang kedua, lalu yang ketiga, dan seterusnya. Aku merasa seperti masuk ke dalam cerita yang dibuat oleh sang penulis. Meskipun aku mulai mengantuk. Aku bertahan demi membaca novel yang juga di baca oleh Ukhti Khairunnisa ini. Novel ini adalah novel kedua yang pernah kusentuh dan kubaca isinya. Setelah yang pertama yaitu novel “Pudarnya Pesona Cleopatra” karangan Habiburrahman El-Shirazy.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :