“Bukan begitu, Ukh! Ana hanya tidak ingin kalau omongan ana yang terdengar oleh orang lain mungkin akan tersebar dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Sekalipun benar ana tetap tidak suka seperti itu.” Jawabku.

        Nurul meminum teh botolnya dengan menggunakan sedotan, kemudian ia memperhatikan wajahku sesaat.

        “Oke. Terus yang jadi masalah antum sekarang itu apa?” tanya Nurul dengan lembut dan senyum di wajahnya.

        Aku diam setelah mendengar pertanyaan Nurul. Tatapan matanya seolah sedang mencoba menangkap apa yang sebenarnya menjadi menjadi masalahku. Sementara aku sendiri pun juga belum menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

        “Ana tidak tahu. Wajah Ukhti Khairunnisa selalu menari­menari dalam benak ana. Ana sudah berusaha menepisnya, tapi yang ada malah ia tidak mau pergi,” jawabku.

        “Kalau begitu katakan saja perasaan antum kepada Ukhti Khairunnisa, kalau dia juga suka pada antum, maka pinanglah ia segera. Kalau tidak, yaa mungkin antum harus rela kalau Ukhti Khairunnisa dilamar oleh orang lain nantinya,” komentar Nurul. Membuat hatiku merinding.

        Demikian komentar sahabat baikku, Nurul. Dia sudah menjadi sahabatku sejak kami masih duduk di bangku SD. Dia adalah teman yang selalu mampu menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik. Tapi entah mengapa menurutku komentar itu terkesan sangat buru-buru jika aku lakukan.

Bagikan :