Apalagi sekarang ini aku masih berusia belum genap dua puluh tahun. Apalagi saat ini aku hanyalah seorang mahasiswa saja. Akan kuberi makan apa gadis yang nanti jadi istriku kelak.

        “Sepertinya tidak semudah itu, Ukhti … ana sendiri bahkan belum berkenalan dengan Ukhti Khairunnisa secara langsung.” Ujarku. Nurul menaikkan kedua alisnya yang aku tidak tahu karena apa.

        Dia memalingkan wajahnya pada suatu tempat. Mendekap kedua tangannya. Matanya seperti memandang sesuatu dari kejauhan dan menerawang.

        “Itu terserah pada antum saja. Ana sudah memberikan saran. Kalau antum belum mengenal Ukhti Khairunnisa, cobalah mengenalinya mulai dari sekarang!” kata Nurul dengan masih menerawang.

        Selesai bicara kami pergi ke kasir untuk membayar minuman kami. Kebetulan saat ini adalah giliranku untuk membayar minuman Nurul, karena beberapa hari yang lalu Nurul sudah membayarkan makananku. Ini adalah kebiasaan yang sudah kami lakukan sejak kami masih di kelas 2 SMP. Kebiasaan saling membayar makanan atau minuman ini berawal dari aku yang lupa bawa uang jajan.

        Hari setelah beberapa minggu aku duduk di bangku kelas dua SMP dahulu. Seperti kebiasaan para siswa biasanya. Para siswa berhamburan menuju kantin saat jam istirahat. Kalau tidak pergi ke kantin setidaknya mereka ke depan sekolah, biasanya ada penjual pentol, mie goreng, sate, dan juga ada es kelapa, pop es, dan sebagainya. Aku yang lupa membawa uang jajan terpaksa harus diam di kelas. Padahal sejak satu jam tadi perutku lapar, karena saat tadi pagi aku belum sarapan.

Bagikan :