Saat itu Nurul datang menanyakan kenapa aku masih di dalam kelas. Karena dulu aku masih sangat jujur maka aku mengatakan padanya kalau aku tidak punya uang. Nurul yang baik hati mengajakku makan di kantin dan aku tidak perlu khawatir soal uang. Karena dia yang akan mentraktirku. Setelah hari itu aku yang mentraktirnya di kantin. Sejak hari itu kami sering makan di kantin bersama-sama dan menraktir bergantian.

        Aku juga masih ingat pertama kali aku membawa Nurul ke rumahku. Sebenarnya aku tidak bermaksud membawanya ke rumah. Aku kasihan pada Nurul karena dia sakit perut dan tidak kuat menunggang sepedanya dan lagi waktu itu rumahku dekat dengan sekolahku. Aku punya motto tersendiri dalam persahabatan di hidupku:

Semua dilalui bersama­sama….

        Nyaliku langsung ciut ketika berhadapan dengan wajah marah bapak ketika memberi tahu beliau kalau aku membawa Nurul, yang sekarang sudah duduk di kursi tamu rumah. Bapak langsung menuju ruang tamu. Ketika sampai di sana ada Nurul dengan wajah yang pucat. Dan ada Rini, Via, dan juga Ana menemani Nurul. Aku sengaja mengajak teman­teman lainnya karena aku tidak bisa membawa Nurul beserta sepedanya. Jadi aku hanya membawakan sepedanya saja.

        Aku menyusul bapak tepat di belakang. Beliau terlihat memperhatikan teman­teman yang kubawa. Rini, Via, dan Ana memberi salam dengan mendatangi Bapak dan mencium tangan beliau. Kemudian mereka memperkenalkan diri mereka. Aku sempat tertegun melihat teman­temanku ini.

Bagikan :