Tapi syukurlah, aku melihat wajah bapak sudah mencair. Apalagi setelah memperhatikan penampilan mereka yang pakaiannya longgar dan panjang.

        “Maaf, Paman. Saya tidak ikut cium tangan. Saya tidak kuat berdiri.” Kata Nurul dengan lemah.

        “Nurul sakit perut, Pak, sudah dari jam istirahat kedua lho..” sambungku.

        Bapak memperhatikan Nurul, terlihat perasaan iba dari wajahnya.

        “Lho … tunggu apa lagi? Bawakan air hangat, bapak akan pergi mencarikan obat buat teman kamu.” Perintah Ayah.

        “Sebelum sakit perut, makanan apa yang kamu makan?” Bapak menanyai Nurul.

        “Saya makan roti sama minum susu waktu mau berangkat sekolah,” jawab Nurul.

        “Kamu punya sakit maag?”

        “Iya.”

        “Ooh. Pantes kamu sakit perut. Seharusnya kamu menyempatkan makan. Baginda Rasulullah pernah memberi nasehat, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.” Kata bapakku dengan lembut.

        “Dia sibuk baca buku, Pak. Soalnya sebelum istirahat kedua tadi ada ulangan Biologi.” Sahut Rini, dan langsung diiyakan oleh Via dan Ana.

Bagikan :