Bapak mengajakku ke belakang. Beliau menyuruhku membuatkan minuman untuk teman­teman. Khusus untuk Nurul, bapak menyuruhku membuatkan air putih yang hangat saja. Dan menyuruhku membuatkan bubur untuk Nurul. Sementara bapak sibuk mencari obat yang cocok untuk Nurul di lemari obat. Melihat reaksi bapak yang sangat baik Via bertanya, “Kok tadi kamu kelihatan cemas sekali, San? Bapak kamu itu sangat baik lho.”

        Mendengar itu aku hanya menyengir sambil menggaruk leherku yang tidak gatal. Begitulah awal cerita aku memperkenalkan Nurul sebagai temanku kepada bapakku. Setelah lulus SMP sampai lulus SMA hingga kuliah saat ini. Hanya Nurul sahabatku yang tersisa dari masa-masa awal remaja itu.

***

        Hembusan angin menyentuh dengan lembut permukaan kulitku. Sekarang aku terduduk di atas rerumputan berwarna hijau di tepi danau yang tidak jauh dari kampusku. Komentar Nurul ketika aku berada di kantin tadi mondar­mondir dengan jelas di telingaku: “Kalau begitu katakan saja perasaan antum kepada Ukhti Khairunnisa, kalau dia juga suka pada antum, maka pinanglah ia segera. Kalau tidak, yaa mungkin antum harus rela kalau Ukhti Khairunnisa dilamar oleh orang lain nantinya!”

        Lalu terbayang wajah Ukhti Khairunnisa yang cantik tersenyum padaku. Subhanallah, cantiknya dia. Matanya bulat bersinar. Kulitnya putih. Hidungnya melengkung indah.

Bagikan :