“Ya Allah, bantulah aku agar tidak terlalu mencintai sesuatu yang belum halal bagiku.” Gumamku.

        Aku berbaring di atas rerumputan dengan tas kujadikan bantal. Merilekskan badan dan pikiran. Sambil menatap langit aku mengingat­ingat hafalan Al­Quranku. Mengalihkan pikiranku dari Ukhti Khairunnisa. Biarlah akhirat kukejar, bidadari insya Allah mungkin sedang menunggu di dalam syurga Allah yang hakiki.

        “Bang Hasan, apa yang kau lakukan di tepi danau sendirian macam ini?” Sapa Fadhil sambil berjalan mendatangiku.

        “Aku mau liat pemandangan dan angin segar, cuci mata,” jawabku sambil tersenyum.

        “Alamak, Bang, kalau tempat kau cuci mata di danau yang sepi macam ini, pantaslah kau tak ketemu­ketemu sama bidadari.” Kata Fadhil setengah meledek.

        “Lho, terus kamu sendiri kenapa kemari, bukannya di sini tidak ada bidadari?” tanyaku sambil tersenyum.

        “Aku ke sini mau cari ikan, Bang. Nih aku bawa pancingan sama umpannya.” Kata Fadhil sambil memperlihatkan pancing dan umpan yang dibawanya.

        Fadhil berjalan mendekati danau dan duduk di atas rerumputan. Jarak kami kira­kira enam langkah. Dia memasangkan umpan pada kail. Baru setelah itu dia mengulurkan pancingannya. Sambil menunggu dia bersiul. Umpannya disambut oleh ikan, dia menarik pancingan. Ikan dia masukkan dalam wadah yang berisi air.

Bagikan :