“Bang, nampaknya ikan­ikan di sini naksir sama aku. Iya kan, Bang?” tanya Fadhil yang kemudian mengulurkan pancingannya lagi.

        “Terserah kamu, Dhil.” Jawabku sambil tersenyum.

        Fadhil kembali bersiul. Sesaat dia bertanya lagi.

“Aku ganteng apa tidak, Bang?” Dia meletakkan pancing yang ia pegang ke atas rerumputan dan membalik badannya menghadapku.

        “Pada dasarnya Allah menciptakan manusia itu paling indah dari makhluk ciptaannya yang lain,” jawabku sambil tertawa sendiri mendengar apa yang barusan ku ucapkan.

        “Kalau Nurul kira­kira suka sama aku atau tidak ya, Bang?” tanya Fadhil agak malu­malu.

        Wah. Ternyata Fadhil menyukai Nurul. Aku baru tahu sekarang. Ini kali pertama dia menyebutkan nama Nurul di depanku. Ekspresi wajahnya malu­malu dan juga dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

        “Yaa … aku tidak tau, Dhil. Kamu harus tanya langsung ke Nurul!” Ujarku memberi saran.

        “Tapi yang aku tahu Nurul itu tidak suka sama laki­laki yang suka siulan,” kataku sedikit sambil tertawa.

        “Bercanda pula Abang ni….” Fadhil merajuk sambil melempari rerumputan yang dia tarik dari tanah dan dilemparkannya padaku namun tidak kena. Dia kemudian membalikkan badannya membelakangiku dan kembali memegang pancingnya.

Bagikan :