Aku tertawa gelak melihat tingkah laku teman kuliah satu kelasku ini. Dia lebih muda dariku karena aku terlambat kuliah dua tahun. Itu sebabnya dia memanggilku dengan sebutan abang. Dia memang seperti adik bagiku. Aku tidak menyangka Fadhil yang sudah seperti adik bagiku ini menyukai Nurul sahabatku.

        “Fadhil, aku mau pulang duluan. Kamu masih mau mincing, kan?” tanyaku sambil pamit lalu berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celanaku yang di depan.

        “Iya, hati­hati, Bang!” jawab Fadhil tanpa bergerak dan fokus pada pancingannya.

        “Assalamualaikum!” Salamku sebelum pergi.

        “Wa´alaikumsalam.”

        Aku melangkah dengan santai. Entah danau yang tenang dan hawa sejuknya atau karena obrolan dengan Fadhil, perasaanku terasa lebih baik. Dari belakang terdengar kembali suara siulan Fadhil. Hhh. Anak itu memang suka sekali bersiul. Di pucuk pohon cemara, burung kutilang berbunyi. Bersiul­siul sepanjang hari, dengan tak jemu­jemu. Seperti Fadhil.

***

        Pukul sebelas menjelang siang. Aku baru saja masuk ke dalam perpustakaan kampus. Tempat favoritku yang ketiga setelah rumah dan mesjid. Berada di dalam perpustakaan membuatku merasa nyaman. Kadang aku benar­benar membaca, kadang aku tidur.

Bagikan :