Gerbang rumahku terbuka, mobil kamipun masuk ke dalam dan berhenti di halaman depan rumah kami yang luas. Aku segera keluar dari dalam mobil dan menatap rumah megah yang ada di hadapanku dengan perasaan gembira. Dua tahun tidak pulang, ternyata benar-benar membuatku homesick.

“James, ayo masuk. Kita makan malam.” Kata Mom yang sudah berdiri di sampingku.

Kami sekeluargapun makan malam bersama. Mom benar-benar membuktikan perkataannya, semua menu makan malam kali ini adalah makanan favoritku. Ada nasi uduk, semur ayam, telur dadar, bandeng presto, sambal goreng hati, dan pecel lele.

Tentu saja aku merasa sangat senang, apalagi selama kuliah di New York aku jarang makan makanan Indonesia. Kalaupun aku pergi ke restoran yang khusus menjual masakan Indonesia, rasanya tidak akan seenak buatan Mom.

Saat makan malam ini, rupanya bukan cuma aku yang merasa senang dengan semua sajian yang dihidangkan Mom. Karena ada orang yang lebih antusias selain aku. Siapa lagi kalau bukan Nicholas. Dia memang hobi makan, dan tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal yang satu ini.

Dia itu pemakan segalanya, bahkan dari kecil dia memang hobi makan. Kalau dia sedang makan, kadang bisa tambah sampai tiga piring. Tapi baguslah ternyata dia bisa menjaga bentuk badannya, jadi dia masih tetap terlihat keren.

Bagikan :