Masih ada waktu sambil menunggu kedatangannya. Aku siap-siap ke supermarket dekat kosan untuk membeli keperluan bulanan sekaligus cemilan-cemilan kue kering.

Jam 7 malam.

Disinilah Alex, berdiri di hadapanku setelah pintu rumah kos kubukakan. Kami saling berpandangan lama, meresapi keberadaan satu sama lain dan mereka-reka wajah satu sama lain waktu remaja dulu. Kemudian aku merasakan hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya dengan teman-teman pria yang pernah dekat denganku. Chemistry itu. Ada chemistry sejoli di antara kami berdua.

Alex lebih dulu tersenyum padaku. “Halo Elena, senang bertemu lagi. Kamu banyak berubah,” ucapnya dengan suara itu, suara pria yang selama ini hanya kudengar di telepon, sambil menjabat tanganku erat-erat. Matanya intens menatapku.

Ada yang berubah dari Alex, begitu kontrasnya hingga menarik perhatianku. Apa ya? Ah, iya, badannya sekarang tegap, lebih berotot, dan pandangan matanya sangat penuh percaya diri. Alex yang kulihat sekarang adalah Alex yang berkharisma. Bukan Alex yang cengengesan waktu masa kecil kami dulu.

Jika para ahli berpendapat bahwa telapak tangan tidak bisa mengecap rasa, detik itu juga aku akan dengan segenap hati membantahnya. Jabatan tangannya terasa menggetarkan seluruh syaraf.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :