Kulihat tidak muncul ID caller di layar ponsel. Ah, tidak kenal, tidak usah diangkat. Kulanjutkan lagi tidur yang tadi sempat terganggu.

drrttt…drrttt…!! Ponselku bergetar sekali lagi. Ih, siapa sih ini? Malam-malam begini pula.

“Halo?” sahutku malas akhirnya sambil tetap memeluk guling.

“Halo, malam, apakah benar ini nomor telepon Elena?” tanya suara empuk dari seberang sana, dengan nada ragu-ragu. Suara yang maskulin, yang mampu menyihirku menjadi tidak ngantuk dalam seketika.

“Ya, benar dengan saya sendiri. Ini siapa?” tanyaku penasaran.

“Halo Elena, saya Alex, masih ingat nggak?” ucapnya dengan nada lega.

….hening beberapa menit.

Alex? Aku mencoba-coba mengingat siapa saja temanku yang bernama Alex. Seingatku, hanya ada teman sekolah dulu yang punya nama panggilan sama, itupun dia sudah berada di luar negeri. Apakah dia sudah kembali pulang ke tanah air sehingga meneleponku? Tapi kami tidak cukup akrab sehingga dia mau repot-repot menghubungiku malam-malam pada jam segini pula.

“Maaf, ini siapa ya?” tanyaku lagi, menyerah.

“Saya Adriano Alexander, tetangga belakang rumah di kampung,” jelasnya singkat mencoba mengingatkan.

“Oh, hai Alex, apa kabar?” ucapku akhirnya baru teringat.

Bagikan :