Ya ampun, Alex yang itu, teman kecilku, tetangga sekampungku. Dulu saat masih SD, kami sempet rajin menemani orangtua kami untuk pergi ke arisan. Yang masih tersisa dari ingatan remajaku adalah pesona wajahnya saat kulihat sedang bermain basket di halaman depan rumahnya. Semenjak lulus SMU, kami tidak berkomunikasi lagi karena langsung cap cus menuju kota tujuan kami kuliah masing-masing.

“Saya lagi di Papua, maaf ganggu malam-malam, cuma jam segini sempetnya bisa nelpon.”

“Wow, Papua! Kerja?”

“Ada ikatan proyek dengan perusahaan tambang di sini. “

“Sampai berapa lama?”

“Bulan depan udah balik.”

“Kemana?”

“Ke Denpasar, kantor pusat kami.”

Oh, wilayah kerjanya di bagian Timur negeri ini.

Kemudian dia menjelaskan memperoleh nomor ponselku dari mamaku, secara mamaku dan mama dia adalah teman arisan yang sangat dekat. Obrolan kami pun langsung nyambung, berkembang melebar kesana dan kemari, dengan ringannya. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, kenapa Alex tiba-tiba berupaya mencari nomor kontakku setelah hampir sepuluh tahun kami tidak saling bertukar kabar.

Bagikan :