“Udah malam, kapan-kapan kita sambung lagi, nggak apa-apa kan?” ucapnya menyudahi percakapan kami.

“Nggak apa-apa, nggak ada yang marah kok,” candaku iseng.

“Aku tahu,” ujarnya dengan nada pede.

Eh? Bisa kutebak, pasti tahu dari Mama.

Minggu-minggu berikutnya dia mulai rajin meneleponku di malam hari, sehingga aku jadi terbiasa menunggu cerita darinya di telepon sebelum tidur. Bahkan kadang-kadang jadi tertidur sendiri karena terbuai suaranya yang empuk itu. Suara pria banget. SMS-nya pun mulai sering mampir di ponselku hanya sekedar menanyakan kabar.

Hingga suatu malam, Alex memberitahuku bahwa dia akan datang ke Jakarta.

 “Ha? Dalam rangka apa, Lex?” aku tercengang kaget.

“Ambil cuti dua hari, cuma pengen maen, udah lama nggak ke Jakarta, ” jawabnya santai.

Feeling-ku mengatakan Alex sengaja menyediakan waktu untuk ketemu aku.

“Len, kalo udah di Jakarta, jalan-jalan berdua yuk,” ajaknya.

Nah, tuh kan.

—————————–

Bagikan :