“Bagus kalo begitu. Sekarang papa mau memberi kamu tantangan sekaligus bagian dari kerjasama kita dengan perusahaan teman kamu si Celvin itu. Jadi rencananya akan dibangun taman hiburan di dekat bukit Puncak. Papa ingin kamu menangani proyek ini. Papa sudah survey proyek ini dan ternyata di atas bukit ada sebuah pondok kecil. Papa ingin kamu membereskan pondok itu dan setelah itu kamu bisa membangun taman hiburan di sana. Gimana, apa kamu setuju?”

        “Aku ok, ok aja. Oh ya, orang yang tinggal di pondok itu siapa?”

        “ Itu urusan kamu.”

        “ Tapi nanti orang yang tinggal di pondok itu akan tinggal dimana kalau rumah mereka kita gusur?”

        “ Ya, itu urusan mereka. Ya udah ya, papa mau ke kamar dulu. Kamu istirahat ya…”

        Itulah bokap gue. Dia selau gak peduli dengan orang lain. Kadang sifatnya ini keterlaluan dan gue gak suka itu. Bokap terlalu otoriter dengan gue dan cuma peduli sama gue karena gue adalah salah seorang penerus perusahaannya. Nyokap selalu bilang gue harus sabar hadapin bokap. Itulah satu-satunya yang bisa gue jadiin penghibur diri saat gue lagi kesel sama bokap.

***

Bagikan :