“Saya juga setuju dengan Didit. Apalagi saat kami mengetok pintu rumah itu. Ternyata yang membuka pintunya adalah sepasang kakek nenek yang menunjukkan wajah penuh dengan keterbatasan. Saya tidak tega melihat mereka. Katanya rumah itu adalah satu-satunya istana mereka bersama cucu mereka. Dan ternyata orang tua dari si cucu sudah meninggal. Saat kami datang tadi cucunya sedang pergi ke pasar menjual sayuran dan kuliah di kota. Saya jadi tersentuh dan tidak jadi mengusir mereka.” Lapor Omar.

        “Gue juga sependapat sama mereka. Satu-satunya sumber nafkah mereka adalah berladang padahal keduanya sudah tua. Setelah dapat hasil, si cucu akan membawa hasil itu ke pasar dengan mobil pick up dan uang itu yang membiayai dirinya kuliah dan keperluan mereka sehari-hari. Bahkan mobil itu adalah hasil cicilan mereka setahun yang lalu dengan cicilan per bulan hingga satu tahun. Belum lagi kedua orang tua itu sangat ramah dan baik sama kita. Gue gak tega sama mereka.” Antonius mengakhiri laporan.

        “Hmmm … dari laporan kalian gue juga jadi gak tega. Bahkan dari awal gue sudah gak setuju dengan ide bokap. Tapi mau gimana lagi? Gue harus nurutin perintah bokap, kaliankan tau bokap gue otoriter. Ya udahlah. Kalian boleh kembali ke pekerjaan kalian masing-masing. Makasih atas bantuan kalian.”

        Sekarang gue tambah bingung. Satu sisi gue gak pengen ngambil hak orang lain. Tapi satu sisi lagi gue gak berani melawan keotoriteran bokap. Oh God, apa yang harus gue lakuin? Gue galau! Ternyata repot juga jadi seorang pengusaha apalagi yang harus berurusan dengan lahan.

Bagikan :