Pergolakan hati nurani dan manusiawi sangat kencang, men! Sekarang gue harus nyusun rencana baru. Gue rasa gue perlu ngebujuk bokap buat ngebatalin proyek itu. Mana tau aja bokap berubah pikiran dan ngebatalin proyek itu. Ya, banyak-banyak aja berdoa.

***

        Gue berusaha menabahkan hati gue untuk ketemu sama bokap di ruang kerja. Kemudian gue ngetok ruang kerjanya. Terdengarlah suara dari dalam mengijinkan gue masuk.

        “Oh kamu, Ga. Papa kira siapa. Ada apa? Di kantor nggak ada masalahkan?” tanya papa menyapa dibalik laptopnya.

        “Gak ada masalah, Pa. Cuma aku lagi mau bernegosiasi sama papa.” ucap gue yang mulai gugup.

        “Maksud kamu apa? Kamu mau pindah tugas ke cabang yang lain? Atau kamu mau minta modal untuk usaha kamu sendiri, atau…”

        “Nggak, Pa. Aku cuma pengen… kita batalin proyek kita membangun taman bermain di dekat bukit yang kemaren papa kasi ke aku.”

        “Memangnya ada apa? Kamu takut menjalani proyek kita ini? Sudahlah! Apa yang kita kerjakan itu pasti dapat izin dari pemerintah.”

        “Maksud aku bukan begitu, pa. Hati nurani aku bilang kita nggak boleh ngambil hak orang lain. Aku sudah suruh temen aku untuk survey ke sana dan kata mereka di sana ada sepasang kakek nenek yang sudah tua dan Cuma tinggal sama cucu mereka aja disana.

Bagikan :