Mereka sudah tidak punya kerabat lain dan pondok mereka adalah istana mereka satu-satunya. Aku nggak tega ngambil tempat itu dan merubuhkan rumah mereka.”

        “Kalau begitu kamu harus memikirkan bagaimana cara supaya mereka tidak kehilangan rumah mereka tapi juga kita bisa mendapatkan tanah itu seizin mereka. Kita tidak mungkin membatalkan proyek ini. Kita sudah ada kontrak kerja dengan Celvin. Kamu mengertikan?”

        “Iya, Pa…” gue kemudian keluar dari ruangan dan menghela nafas panjang. Kemudian aku menuju ke kamar. Belum jauh dari sana nyokap ngajakin gue ngobrol di kamar gue. Kelihatannya muka gue nunjukin banget kalo gue lagi gelisah sampe-sampe nyokap mau gue ngomong sama gue.

        “Rangga, kamu ada masalah apa sama papa kamu? Cerita dong sama mama….”Bujuk nyokap saat kami sudah di kamar.

        “Sebenarnya gak ada masalah yang terlalu besar kok, Ma. Cuma ada proyek yang membuat aku galau.”

        “Emang ada proyek apa sampe kamu harus galau?”

        “Papa suruh aku bangun taman bermain di dekat puncak yang ada bukitnya. Kalo gak salah namanya Nusa Indah. Padahal menurut survei temenku disana ada sepasang kakek nenek yang tinggal sama cucunya. Aku gak tega kalo harus mengusir mereka.”

        “Hmm … jadi itu masalah kamu. Ngomong-ngomong cucunya umur berapa dan dia cowok atau cewek?”

Bagikan :