Bab 1

Nightmare – Mimpi Buruk

“Ben! Benny!!”

Aku menoleh ke belakang, memicingkan mataku agar bisa melihat jelas, di antara paparan cahaya matahari yang menyilaukan. Ternyata Joshua, Hilman, dan Oscar!

Aku tarik ransel hitamku ke pundak, lengan kiriku terasa pegal memegang ransel yang penuh dengan setumpuk buku pelajaran kelas 1 SMP hari ini.

Mereka bertiga berlari mendekatiku. Kilauan cahaya sekilas memantul dari kulit berminyak di wajah mereka. Hawa panas dan sinar terang membuatku masih memicingkan mata, mengikuti derap langkah tiga pasang kaki di atas trotoar yang berdebu.

Mata mereka bersinar, bersemangat, menyala, berkata-kata dengan bisikan yang sebenarnya terdengar nyaring.

“Jadi, kan?” tanya Oscar sambil menatap bergilir kepada kami bertiga. Oscar yang paling jangkung di antara kami berempat. Kulit tubuhnya coklat, mata bulatnya dihiasi bulu mata lentik seperti cewek, rambutnya dipangkas cepak model tentara.

“Jadi dong!” jawab Joshua cepat sambil nyengir. Tangannya menepuk tas sekolah birunya dengan bangga. Perawakannya kecil, kulit coklat terang, dengan rambut lurus yang dibelah samping sangat rapi.

“Aman di rumah elo, Hil?” tanya Oscar setengah berbisik.

Bagikan :