“Sip, bo-nyok gua ke Makassar, 3 hari. Rumah kosong, kakak cewek gua pasti di kamar terus. Kakak cowok gua dah ngungsi ke rumah temannya, sampe besok! Pokoknya aman!” bisik Hilman penuh semangat. Hilman, si anak tajir, badannya tambun dengan kulit putih kemerahan – menjadi pink, keringat selalu membasahi dahi dan pipinya yang tembem.

Aku bersandar ke tiang listrik di tepi jalan raya depan sekolah. Menatap mereka bertiga bingung.

“Elo mau ngapain ke rumah Hilman?” Aku bertanya sambil sesekali memindahkan berat tubuhku bergantian dari kaki kanan ke kaki kiri.

“Sstt! Pokoknya elo ikut aja, Ben!” jawab Oscar.

“Ayo! Buruan!” ajak Hilman bersemangat.

Kami berempat berjalan kaki dengan langkah lebar dan cepat, ke arah rumah Hilman yang paling dekat dengan sekolah.

Aku menyamakan langkahku dengan langkah mereka, badanku termasuk kedua paling tinggi setelah Oscar. Kulitku putih bersih, tapi tidak seputih Hilman. Rambutku lurus dipotong pendek.

Rumah Hilman sangat besar. Dua lantai, mentereng, kedua orangtuanya anggota parlemen. Sering keluar kota meninggalkan ketiga anaknya bersama dua orang pembantu perempuan, satu orang sopir, dan satu orang tukang kebun.

Hilman mendorong pagar rumahnya, memberi isyarat tangan kepada kami bertiga untuk segera masuk.

Tanpa banyak bicara kami langsung ke kamar Hilman di lantai atas, melewati ruang tamu yang seperti ruang pajangan benda-benda unik. Sebuah lemari kaca berisi puluhan atau ratusan pernak – pernik unik yang

Bagikan :