mungkin didapat oleh kedua orangtua Hilman selama berdinas ke luar kota atau  ke luar negeri.

Kami membuka sepatu sekolah kami di depan kamar Hilman, bertelanjang kaki memasuki kamarnya yang luas.

Oscar langsung menghempaskan badannya ke kasur Hilman yang super empuk, Hilman sendiri langsung menyalakan AC, lalu menghampiri tv set di depan ranjangnya.

Aku duduk disamping Joshua di lantai yang berkarpet, menghadap ke arah layar tv.

Joshua mengeluarkan bungkusan dari dalam tas sekolahnya, lalu menyerahkan bungkusan itu ke Hilman.

“Apaan sih, Josh?” tanyaku lagi ke Joshua.

“Pokoknya sip, deh!” jawab Joshua penuh rahasia dan tersenyum meledek.

Aku pukul kepala Joshua, dia membalas pukulanku, dan menit berikutnya kami sudah bergulat di lantai. Tawa Joshua menggema ketika aku kempit lehernya dengan kedua kakiku.

“Goblok! Jadi nonton nggak?” tanya Hilman, sambil memasukkan sebuah kaset vhs ke playernya.

Aku melepaskan badanku menjauh dari Joshua yang masih menyeringai iseng kepadaku.

Oscar duduk bersila di atas kasur, Joshua dan aku masih memilih duduk di lantai dengan punggung menyandar di sisi kasur Hilman.

Hilman menekan tombol ‘play’, lalu dengan sekali lompatan duduk di kasur di sebelah Oscar.

Bagikan :