majalah, kini kubuang ke tempat sampah besar di depan rumah dengan perasaan kesal!

Masa puber yang seharusnya menjadi masa indah bagiku, menjadi  bagian dari sejarah kelam dalam kehidupanku. Melihat seorang gadis cantik seumuranku menjadi tidak menarik lagi, aku cenderung berdiam diri, berpura-pura membaca buku atau melakukan sesuatu yang sebenarnya terlihat konyol. Tapi akan lebih terlihat konyol apabila seluruh murid SMP sekolahku ini tahu dan menertawakanku!

Meminta papa untuk memindahkan sekolahku ke tempat lain yang lebih jauh akhirnya kupilih setelah aku tidak tahan mendengar olok-olok mereka – yang mengaku sahabatku, membuat keadaanku sebagai bahan ejekan, bahan cemoohan, bahan tertawaan setiap saat.

Ketika orangtuaku menanyakan alasannya, aku hanya bilang bahwa aku tidak menyukai sekolahku.

Aku tidak pernah terbuka kepada siapapun juga, karena aku takut akhirnya malah akan membuatku menjadi bahan lelucon. Sampai aku dewasa seperti sekarang ini.

Aku menarik nafas panjang dan turun dari ranjangku perlahan. Kunyalakan lampu, dan kubuka laci lemari pakaianku.

Aku meraih selembar foto yang memperlihatkan seorang gadis berambut hitam panjang, berkulit putih bersih, memakai seragam SMA, sedang berdiri di depan pagar sebuah rumah.

Wajahnya sangat cantik, matanya bercahaya bening, hidungnya mancung, bibirnya penuh, berwarna kemerahan alami. Badannya langsing, rok abu-abunya menutupi kaki sampai di bawah lutut. Betisnya putih mulus berisi.

Bagikan :