Namanya LIANA SISWOYO, 19 tahun, sebulan lagi dia akan lulus SMA.

Seorang gadis unggulan yang ditawarkan bu Dewi, seorang mak comblang yang dibayar mama agar menemukan seorang gadis  – yang memenuhi syarat bibit-bobot-bebet seperti kemauan mama  – di kota ini.

Aku menatap lagi senyum tipisnya di foto itu. Ada ragu menerpaku.

Hari ini seharusnya Bu Dewi mendatangi rumah Liana, menjadi penghubung niat baik keluargaku untuk menjodohkan Liana denganku, Benny Setiawan, perjaka abadi berumur 33 tahun.

Aku masukkan lagi foto Liana ke dalam laci dengan perlahan. Nasib gadis cantik ini ada di tanganku sekarang… batinku berbisik.

Aku menyusup masuk ke balik selimut tebalku, berusaha memejamkan mataku dan menghilangkan mimpi buruk yang seakan-akan mengingatkanku  – untuk berhati-hati.

***

Pagi ini aku bangun dengan lesu. Kepalaku terasa agak berat, setelah terbangun karena nightmare, mimpi buruk  – salah!! – mimpi tentang fakta yang buruk!

Mimpi berikutnya di saat aku terlelap lagi, aku merasa jatuh dari ketinggian, yang membuatku terbangun lagi. Saat itu mentalku turun drastis ke titik nol!

Minggu lalu mama memanggilku. Di ruang keluarga, papa dan mama menatapku penuh keseriusan, membicarakan tentang hidupku.

Bagikan :