“Kamu sudah 33 tahun Benny… mama dan papa sudah tua, sudah waktunya kamu membina rumah tangga kamu sendiri. Mau sampai kapan kamu sendirian terus begini…” kata mama menatap mataku melalui kacamata bacanya.

Aku diam tercenung, mataku menatap mata mama, kosong.

“Papa sangat senang dengan semangat kamu, dengan keinginan kamu, dengan ambisi kamu untuk meneruskan dan menjalankan perusahaan keluarga kita. Tapi kamu tidak boleh lupa, bahwa kamu juga adalah seorang laki-laki yang harus membentuk suatu keluarga, yang nantinya akan memberikan papa-mama kamu ini seorang penerus…”  lanjut papa.

Aku menahan emosiku yang tiba-tiba naik ke permukaan mendengar kalimat orangtuaku yang seperti tekanan beruntun kepadaku, rahangku menangkup kencang. Ada gelegak rasa benci – kesal – marah – kecewa – entah pada siapa saat itu.

Aku pernah marah kepada orangtuaku, pada mamaku yang melahirkan aku dengan tidak sempurna! Berunjuk rasa dengan cara bolos dari sekolah smp baruku selama 2 minggu, tanpa kata-kata dan alasan yang jelas! Ikat pinggang papa memberiku guratan merah di kedua betisku dan tetesan darah di beberapa titik. Namun semua itu tidak mampu membuat mulutku terbuka untuk menceritakan alasan kemangkiranku itu. Air mataku pun hanya mampu keluar berupa tetesan kecil yang tertutup oleh kekecewaan.

Aku pernah menghujat penciptaku, kenapa aku cacat seperti ini??? Kenapa bukan kakiku saja yang lumpuh?? Kenapa bukan mataku saja yang buta?? Kenapa bukan telingaku saja yang tuli??

Bagikan :