PROLOG

 

Anak lelaki itu berjalan ke arahku. Anak lelaki itu memasang wajah yang seakan menyimpan amarah padaku.

“Kau!” geram anak lelaki itu kepadaku.

Aku mundur selangkah demi selangkah, hingga akhirnya aku tersudut dan tak bisa kemana-mana. Aku menutup mataku ketakutan.

        “Si … siapa kau?!” tanyaku yang diselimuti rasa ketakutan.

Anak lelaki itu tetap melangkahkan kakinya maju dan bisa kurasakan hembusan napasnya yang seakan penuh rasa dendam menerpa wajahku. Membuatku semakin ingin memejamkan mataku.

        “Tidakkah kau mengingatku, Tuan putri.” Bisiknya kepadaku.

…..

Bagikan :