Karena semua murid sedang menatap siswa yang tadi dan sepertinya mereka semua sedang menatapku sinis.

        “Aku tak peduli jika mereka mau membenciku atau tidak. Aku hanya menyampaikan fikiranku saja. Bukankah aku sudah berbaik hati mengingatkannya ?” hiburku dalam hati.

Saat aku memasuki kelasku yang berada di lantai paling atas, semua murid dikelasku langsung menunduk hormat kepadaku.

Ah … kalian yang sedang membaca harus membiasakan diri jika aku berkata seperti itu.

Itu karena aku selalu menjadi tuan putri.

        “Se-selamat pa-pagi, A-angel,” sapa Megi teman sekelasku yang terkenal akan kekolotan dan kelemotan. Lihat saja gaya bicaranya. Saking gugupnya dia tergagap. Sungguh bukan tipe gadis populer.

Aku tak menggubris sapaan Megi dan aku segera mengeluarkan headset dan mp3 kesayanganku.

Si bocah bernama Megi itu terus memandangiku dengan tatapan takjub dan dengan mulut ternganga. Oh Tuhan, bahkan dia sampai mengeluarkan air liur!

        “Kenapa kau melihatku seperti itu?! Hentikan itu dasar menjijikkan!” bentakku kasar.

Megi malah tersenyum lalu berkata

Bagikan :