“Aku kagum padamu, Angel. Kau tak peduli oleh sekitarmu dan fokus pada kesenanganmu. Dan aku juga kagum akan paras cantikmu itu. Dan juga—“

        “STOPP!!! Apa kau tak bisa untuk tidak menggangguku sedetik saja?” ucapku dengan cepat sebelum dia hanyut dalam dunia khayalannya.

        “Mengganggu? bukankah aku temanmu? Jadi, wajar kan bila aku ingin mengajakmu mengobrol?”

Tunggu dulu. Teman? apa mungkin maksud Megi, adalah pelayan? bukankah seorang putri belum lengkap jika tak ada pelayan? aha, sepertinya itu ide bagus.

        “Terserahmu saja lah,” sahutku malas.

Megi menatapku seperti anjing yang seolah sedang melihat tulang besar.

        “Jadi kau menerimaku sebagai temanmu ? hwaaaaa terima kasih Angel..” teriaknya senang sambil memegang tanganku. Aku mengangguk dengan malas dan langsung berusaha melepaskan tangannya.

“Bukan teman seperti ‘itu’ yang kumaksud, tetapi menjadi pel—“

Ucapanku terputus oleh suara bell masuk kelas. Megi bergegas menuju tempat duduknya. Ah terserahlah, aku tak peduli.

Aku tak pernah mempercayai seseorang. Karena semakin kita mempercayainya,akan membuat kita hancur ketika seseorang itu mulai mengkhianati kita.

Bagikan :