Bagian 3

Bel istirahat telah berbunyi.

Ahh perutku sudah demo ingin makan siang.

Tapi aku malas bergabung dengan para rakyat jelata yang sedang berebut untuk membeli roti dikantin. Bisa jadi bencana kalau aku ikut berdesakan seperti itu.

Ah,bukankah aku mempunyai seorang pelayan?

        “MEGII!!” teriakku kencang yang membuat seisi kelas menatapku heran.

Megi yang sedang mengerjakkan tugas essayku yang akan dikumpulkan pada jam terakhir pun menoleh.

Megi lalu menghampiri mejaku dengan terburu-buru.

        “Ada apa, Angel?”

Aku segera memberikannya selembar uang lima puluh ribuan.

        “Pergi dan belikan aku roti cokelat dan roti daging. Ahh jangan lupa belikan juga aku susu strawberry. Kembalilah dalam waktu 10 menit. Cepat!”

Bagikan :