Prolog

 

        Hatinya sakit. Sakit sekali. Ia tak bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan ini terlalu menyakitkan untuknya. Kenyataan ini sangat menentang impiannya. Ia tak percaya dengan kenyataan ini. Ia harap waktu dapat ia putar kembali. Ia ingin mengubah segalanya dan menyelamatkan belahan jiwanya.

        Ia duduk dimeja kerjanya, lalu matanya menangkap pisau bedah dimejanya itu. Ia terdiam lama. Lalu tangannya memutuskan untuk mengambil pisau itu untuk mengejar hidupnya yang pergi itu. Mungkin dengan ini, rasa sakit di hatinya akan hilang.

Tangan kanannya memegang pisau dengan gemetar. Sementara itu, tangan kirinya terjulur kedepan dan gemetar hebat. Ia menutup matanya yang tersembunyi di balik kacamata yang bertengger manis dihidungnya. Ia juga menggigit bibir bawahnya dengan gigi-gigi putihnya. Keringat membasahi keningnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Apakah ia akan sanggup melakukan hal ini?

        Lalu ia mendengar suara teriakan seorang wanita. Arahnya berasal dari luar jendela. Ia terkesiap dan pisau yang ia pegang jatuh. Dengan sigap ia memutar badan dan ia melihat seorang perempuan berambut pirang dan memakai piyama rumah sakit.

Bagikan :