Tuhan juga melukis matanya dengan indah, matanya juga berwarna hitam tajam dan putih bening seperti kristal, membuatnya selalu berkaca-kaca. Dia sering berpendapat tunangannya itu datang paling awal saat Tuhan membagikan yang namanya kecantikan.

Namun, wajah cantiknya itu sirna ditelan pucat, mata indahnya itu selalu berkilatkan kesakitan dan kemurungan. Dia sering berpendapat tunangannya itu datang terlambat saat Tuhan membagikan yang namanya ‘kesehatan’.

Memang batinnya sehat, namun fisiknya sakit. Itu karena tunangan nya menderita penyakit Jantung. Membuat Tunangannya itu mudah lelah dan terpaksa harus hidup di rumah sakit menunggu donor jantung yang cocok untuknya. Satu tahun lamanya tunangannya itu menunggu. Akhirnya hari ini dia mendapatkan donor jantung yang cocok. Dia dan ttunangannya itu sangat bersyukur pada Tuhan.

Tunangannya itu beralih pandang dari Natto dan mengangkat wajah menatap dirinya dengan mengernyitkan keningnya. Tangan kanan tunangannya itu masih memegang sendok.

Kaito-kun, daijoubu?[1]tanya tunangannya itu dengan nada cemas melihat Kaito yang terdiam dan menatap dirinya.

Kaito mengerjap kaget. Lalu ia tersadar dan bangun dari khayalannya tentang Mizuki tunangannya itu. Kaito cepat-cepat menyela.

“Aku baik-baik saja, Mizu-chan….” Kaito menyesap kopinya yang sudah mendingin itu. Kaito mengerutkan dahi setelah meminum kopinya yang sudah dingin. Memangnya berapa lama ia menatap Mizu?

[1] Kaito, kau tidak apa-apa?

Bagikan :