Bayu: Jangan keki ya, hehehehe… Sebenernya dulu aku sering ngerasa iri sama kamu, kamu taulah maksudku. Kita inikan, berangkat dari rumah tinggal yang sama, terpilih sebagai dua saudara di keluarga yang sama, dan selalu bersaing dalam banyak hal. Tapi kamu selalu saja satu langkah di depanku, dan aku kesal soal itu. Masih ingatkan, setiap moment memajang piala dan medali di ruang keluarga? Punya siapa yang paling banyak?

Gana: Alah… ngomong apa sih kamu ini? Itu kan sudah lewat Bay, gimanapun Ayah dan Ibu memperlakukan kita selalu sama, aku juga gak pernah ngrasa aku lebih baik darimu. Tapi bicara soal iri, aku juga pernah iri sama keberuntunganmu mendapatkan Ambar. Kamu tau kan kalau sejak pertama kita tinggal bersama Ayah dan Ibu, aku naksir berat sama Ambar? Atau jangan-jangan kamu sengaja curi start dan menang satu langkah dari aku, heh?

Gana mengalihkan pembicaraan tentang kenangan masa lalu itu dengan kelakar dan candanya. Sekali lagi dia tak ingin terjebak dalam kesedihan, segala kekecewaan itu biarlah dirinya saja yang merasanya.

Bayu: Brengsek! Sumpah beneran aku gak tau soal itu, kupikir kamu cinta-cintaan monyet gitu sama si Upik, kalian berdua kan lengket banget. Eh, gimana kabarnya itu bocah songong? Blom married aja dia, masih di divisimu, kan dia?

Bagikan :