Semua orang tampak tekun di mejanya masing-masing. Suara perangkat kantor yang sedang dioperasikan terdengar cukup jelas sampai ke dalam ruang kantornya, terutama bunyi printer di sudut ruangan tak jauh darinya.

Manda tengah mencetak beberapa laporan, sambil bersandar santai nyaris duduk di tepian meja kerjanya, kedua tangan menggenggam mug kopi bergambar karakter kartun Stitch di depan dada, sesekali mendekatkan mug ke bibir, menyecap kopi dengan gayanya yang khas, dan itu mempengaruhi Gana. Antara gemas, juga ingin.

Melirik sekilas cangkir kopinya yang kosong. Gana tersenyum sendiri karena menemukan alasan untuk menjahili sahabatnya. Dan sepertinya Manda adalah orang yang sangat dia butuhkan untuk membuatkan kopi terlezat buatan tangannya, walau untuk itu dia harus menebalkan telinga dan sedikit menarik urat bahkan berdebat dengan sahabatnya.

Ya, Yamanda—Yamanda Jingga, atau mereka biasa memanggilnya Manda. Bahkan, si Upik panggilan olok-oloknya sejak kecil. Gadis itu adalah sahabat Gana juga Bayu. Dulu keluarga mereka bertetangga dan tinggal di lingkungan yang sama, di perumahan pegawai dan staf pabrik gula tua peninggalan kolonial Belanda. Mereka tinggal bersama kurang lebih sembilan tahun, sebelum akhirnya Gana dan keluarganya pindah ke rumah mereka sendiri.

Belasan tahun lalu Gana dan Bayu adalah dua anak yatim piatu yang sengaja diadopsi oleh pasangan suami istri keluarga Ramlan yang tak mempunyai keturunan.

Bagikan :