Blouse lengan panjang yang sebenarnya adalah seragam, telah disingsingkannya sampai siku, jelas terlihat kusut, sepatu kerjanya bahkan telah pula berganti sandal jepit warna biru yang lumayan usang dan entah di mana dia menemukannya.Wajahnya polos tanpa sedikitpun make-up yang tersisa, dan di saat lembur seperti ini gadis itu bahkan tak terlihat ingin memperbaiki penampilan seperti rekan-rekan kerja wanita lainnya.

Manda tampak menyesap kopinya lagi, menahannya di mulut, membuat gerakan berkumur kecil dengan cairan kopi tersebut. Gana tahu Manda penikmat kopi kelas wahid, sama seperti dirinya, hanya saja Manda lebih memilih espresso, sedangkan Gana lebih suka kopi hitam, tanpa campuran. Kopi hitam berkualitas dengan takaran gula dan cara penyajian yang pas. Atau tidak sama sekali.

Gana berdecak tanpa sadar, sedikit terganggu dengan perilaku sahabatnya itu. Bagaimana mungkin wanita berusia nyaris tiga puluh tahun, tapi berkelakuan layaknya ABG labil dan selengean?

Gana menjangkau handel pintu, menyeret langkahnya keluar ruangan untuk menghampiri Manda.

“Mana kopiku?” ucapnya pelan, namun mampu mengejutkan wanita itu.

“Bukannya tadi sudah, Pak?” jawabnya acuh.

“Sudah gak ada orang masih aja manggil pak. Manggil Pak sekali lagi, kugigit telingamu.” Geram Gana.

Bagikan :