terkadang orang-orang di Jerman dan Inggris menganggapku menyebalkan, dan aku juga bukan orang yang pintar.” Jelas Raka malas.

   Pak Ahmad menggelengkan kepalanya. Murid barunya ini sungguh jujur dan tidak malu-malu mengungkapkan kekurangannya. Berbeda dengan saudara kembarnya Rafael. Saat pertama masuk, lelaki itu bersikap sopan dan sangat pintar.

   “Baiklah Raka silahkan kau duduk di bangku yang masih kosong.”

Raka menganggukan kepalanya. Ia berjalan menuju bangku yang masih kosong. Lebih tepatnya ia duduk di kursi paling belakang di samping seorang lelaki yang berpenampilan sama dengannya. Tapi lelaki itu terlihat cuek dan seperti ketakutan.

   Nathan memandang sahabatnya. Rafael terlihat sangat murung dan seperti sedang banyak pikiran. Dari tadi lelaki itu hanya mengaduk-aduk makanannya dengan tidak selera, dan pandangannya juga terlihat kosong.

   “Kau kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini.”

Rafael mengangkat kepalanya. “Tidak apa-apa.”

   “Apa ini karena Raka? Kalian tidak terlihat dekat” Tanyanya memandang Raka yang sedang mengobrol bersama murid lain. Lelaki itu terlihat akrab dengan mereka.

   “Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Saat kami berusia 13 tahun Ayah mengirimnya ke Inggris untuk belajar lebih tentang bisnis. Tapi aku tidak tahu kalau Raka sudah pulang dan datang kesini untuk membawaku pulang.”

   Nathan mengerutkan keningnya. Ia sudah mendengar banyak tentang Raka dari Rafael. Rafael sangat senang bisa mempunyai saudara seperti Raka. Tapi ia tidak tahu apa Raka menyayanginya atau tidak. Karena sejak Ibu meninggalkannya. Sikap Raka berubah menyebalkan dan tidak terlihat apa dia menyayangi Rafael atau tidak. Terlebih Ayah mengirim Raka ke Inggris dan membuatnya jauh dari saudara kembarnya itu.

   “Kalian sedang membicarakanku?” Tanya Raka tiba-tiba.

Rafael dan Nathan memandangnya. Raka mengulurkan tangannya. “Hai aku Raka, kau?” Tanya Raka memandang Nathan. Nathan tersenyum kaku dan menjabat tangan Raka.

   “Hai, aku Nathan.”

Raka mengangkat alisnya. “Kita bisa berteman baik. Tapi kau bukan tipeku. Kau terlalu baik untuk melakukan kejahatan.”

Bagikan :