Merry diam sejenak tampak berfikir.

   “Ayahmu tahu, dia sempat marah tapi Mom tidak tahu bagiamana caranya Raka melumpuhkan amarah Ayahmu dan pergi ke Indonesia.”

Rafael tersenyum. Raka, saudara misteriusnya.

   “Oh, dia juga terlihat aneh di sini.”

   “Ya sudah. Sampaikan salam Mom untuk Raka, bilang padanya kalau Mom sangat sayang padanya. Dan menantikan kalian pulang ke rumah dengan selamat.”

   “Ya Mom tenang saja! Sampai sini dulu ya. Nanti aku telepon lagi.”

Rafael menutup teleponnya. Ia menarik nafas panjang, ia harus bertemu dengan Raka.

   Raka keluar dari rumah sakit. Ia baru saja bertemu dengan seseorang dan membicarakan sesuatu dengannya. Raka memutar-mutar kunci motor di jarinya. Sejenak Raka menghentikan langkahnya ketika melihat seorang lelaki keluar dari dalam ruangan yang bertulisan ‘AIDS’ Raka mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak asing dengan lelaki itu. Lalu Raka teringat kalau lelaki itu adalah teman kelasnya.

   “Kau orang yang duduk di sebelahku bukan?” Tanya Raka.

Lelaki itu mengerutkan keningnya. Ia menatap Raka ragu. Raka melihat mata cokelat kelam lelaki itu. Ia tahu apa yang sedang hadapi oleh teman barunya itu. Raka tersenyum menjabat tangan lelaki itu. Lelaki itu memandang Raka heran. Raka tidak takut sama sekali padanya. Padahal ia tahu kalau dirinya baru saja keluar dari ruangan khusus orang yang mengidap AIDS. Raka tersenyum, walaupun senyumannya itu palsu. Tapi lelaki itu menggapnya sebagai senyuman tulus dari teman pertamanya. Raka masih menjabat tangan lelaki itu.

   “Hai aku Raka. Kau pasti sudah tahu aku bukan? Kau siapa?”

Lelaki itu hanya diam memandang Raka heran.

   “Aku David, kau bisa memanggilku Dave. Orang-orang biasa memanggilku seperti itu. Senang bisa bertemu denganmu.” Ucapnya gugup.

Raka kembali tersenyum. “Jangan merasa takut seperti itu! Aku tidak akan menghinamu. Di Inggris aku bertemu dengan banyak orang dan mereka sepertimu. Mereka mengajariku banyak hal. Maka itulah jangan takut padaku! Aku sudah memilihmu sebagai sahabat baikku.” Ucapnya tulus.

David memandang Raka terpana. Ini pertama kalinya ia dianggap teman oleh  seseorang.

Bagikan :