Bahkan menjadi teman baikknya. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun termasuk dari keluarganya sendiri. Dan Raka juga tidak memandang kelemahannya, tidak memandang sisi buruknya yang kelam.

   “Kau melakukan hal itu pasti ada alasannya. Dan kau terjerumus pada hal yang dilarang oleh negara maupun agama. Sebenarnya kau hanya menjadi korban akibat perkembangan globalisasi saja.” Ucap Raka sekenanya saja.

David tersenyum kecil. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan lelaki aneh tapi baik seperti Raka. Karena sebelumnya, teman-temannya yang dulu malah menjerumuskannya pada hal-hal yang negativ.

   “Kau tidak takut padaku? Banyak orang yang takut pada orang yang mengidap AIDS, dan mereka selalu menganggapku berbeda” Tanya David.

Raka terkekeh geli mendengarnya. David terlalu serius menghadapi masalahnya.

   “Aku tidak takut pada penyakit apapun. Lagipula AIDS tidak menular bukan? Orang-orang yang beranggapan kalau AIDS itu berbahaya, mereka hanya orang bodoh yang tidak pernah menginjakan kakinya dibangku Sekolah.” Ejek Raka.

David tersenyum menggelengkan kepalanya. Sikap Raka sungguh berbeda dari yang lainnya termasuk Rafael saudara kembarnya. Sikap Rafael terlihat lebih pendiam dan kalaupun bicara pasti bicara yang penting dan sekenanya saja. Dan itu membuatnya kesal. Karena kalau begitu ia sama saja berbicara dengan patung bukan dengan makhluk hidup.

   “Kau adalah Raka Alexander pewaris Alexander Group itu bukan?”

Raka mengangkat alisnya. Ia tahu sekarang kalau David bukan orang yang sembarangan.

   “Kau tahu darimana?” Tanya Raka pada David sekaligus pada dirinya sendiri.

   “Aku tahu dari Ayahku. Kau kembali ke Jerman 8 bulan yang lalu dan sudah membuat banyak perubahan. Ayahku sangat mengaggumimu. Dia selalu berharap bisa bertemu denganmu.”

   “Aku hanya Raka Alexander. Lelaki yang duduk di bangku SMA dan sedang menikmati masa remajaku.”

   “Terserah kau saja.”

Raka memgangkat bahunya tidak perduli. Ia harus segera pulang ke rumah. Ada banyak hal yang harus ia kerjakan.

Bagikan :