Bunda dan Ayah terlihat sangat senang, sama sepertiku. Paman Ekhsan memang sudah terbiasa menyebutku putrinya. Bahkan sejak kecil aku sering mengikuti paman ke rapat-rapat khusus direktur dan dia menyebutkan pada semua rekan-rekannya bahwa aku adalah putrinya.      Paman adalah ayah kedua bagiku. Aku sangat menyayanginya seperti dia menyayangiku.

“Bunda, Ayah, lihat! Paman sangat baik.” Aku tersenyum pada kedua orang tuaku. Betapa bahagianya aku. Memiliki dua Ayah yang sangat menyayangiku.

Bunda membalas senyumanku. “Jadi, kamu harus nurut ya, sama Paman. Anggap dia ayahmu sendiri. Enak toh punya ayah dua?” Bunda tertawa kecil

Paman Ekhsan mengelus-ngelus rambutku. “Besok ikut Paman, ya? Paman akan membawa kamu ke rumah salah satu murid Paman.” Cetus Paman. Paman adalah seorang guru sains dan matematika yang sangat pandai. Aku sangat kagum padanya. Paman banyak mengetahui tentang hal-hal yang sangat menakjubkan.

“Paman sudah tidak mengajar di Bimbel ‘kan? Bukannya Paman hanya fokus pada perusahaan?” tanyaku.

Paman tertawa geli. “Memang murid yang di Bimbel saja?” paman mengelus-ngelus rambutku lagi. “Dia murid khusus Paman. Dari dia kecil, Paman sudah menjadi gurunya, sampai sekarang dia sudah berusia 16 tahun. Kamu beruntung Paman ajak bertemu dengannya.”

Aku menatap Paman penuh penasaran. “Beruntung?”

“Ya.”

Aku berpikir keras tentang apa yang Paman katakan.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :