Embun yang menemani sebelum cahaya kini hilang bak dihancurkan oleh sang mentari yang mulai menampakkan dirinya. Dingin udara pegunungan tak mengalahkan tekadku untuk berjalan menyaksikan alam ciptaan Tuhan ini. Menyelusuri setiap lekuk-lekuk indah karya-Nya. Semilir angin menebarkan sejuta kesegaran yang tak pernah kuhirup di tengah hiruk-pikuk dan hingar-bingar kehidupan metropolitan.

        Meskipun aku hanya berlibur bersama Ayah dan Bunda, tapi sebenarnya aku juga memiliki seorang kakak perempuan namanya Thera Shania Rania. Kakakku itu lebih suka dipanggil Shania, alasannya karena hampir mirip dengan namaku, Sonia. Sebenarnya nama lahirku adalah Sivia Yuriska, tapi aku menjadi anak yang susah diatur dan paling susah untuk dinasihati, itulah sebabnya kedua orang tuaku sepakat merubah nama depanku menjadi ‘Sonia’.

Kak Shania sangat menyayangiku dan sangat peduli padaku, meskipun terkadang ia terlihat cuek. Usianya baru menginjak 17 tahun, dua tahun yang lalu. Namun sayang, kecelakaan dua tahun lalu merenggut nyawanya. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Ayah dan Bunda merasa begitu terpukul, saat mengetahui jasad kak Shania tidak bisa ditemukan.

Saat itu hujan lebat, tepat pukul sebelas malam kak Shania yang sudah menjengukku dari Rumah sakit pulang ke rumah. Ia diantar Pak Karyo. Bunda dan Ayah saat itu tengah sibuk untuk mengurusi keperluanku di rumah sakit.

Jarak dari rumah ke rumah sakit cukup jauh, butuh waktu 1,5 jam perjalanan. Jalan yang ditempuh pun cukup curam. Saat itu mobil dalam keadaan mesin yang sedikit tidak beres. Ayah lupa untuk menservisnya karena sibuk mengurusiku. Saat itu Dokter memberi tahu Ayah dan Bunda bahwa aku terkena penyakit radang paru-paru, sehingga mereka lalai untuk mengecek hal-hal lain yang cukup penting dan bisa membahayakan.

Bagikan :