Menurut saksi yang saat malam itu tengah berada di sebuah warung kopi, wilayah yang tak jauh dari kecelakaan Kak Shania; saat itu hujan deras disertai angin kencang, lampu mobil yang dikemudi pak Karyo tiba-tiba saja padam. Dan kebetulan malam itu lampu jalan pun sedang rusak, hanya ada sedikit cahaya dari warung-warung kecil di pinggir jalan tersebut.

Mobil yang ditumpangi kakakku itu melaju sangat kencang, orang-orang yang menyaksikannya, menduga bahwa mobil yang ditumpangi Pak Karyo dan Kak Shania, remnya tidak berfungsi. Sementara itu, saat ada tikungan, mobil itu tetap melaju dengan kencang, seolah-olah Kak Shania dan Pak Karyo tak tahu bahwa ada sebuah tikungan tepat di hadapannya.

Mobil itu dengan cepat menghilang dari penglihatan orang-orang. Mereka berbondong-bondong menuju tikungan. Saat berada tepat di tikungan, mereka seolah tak berani untuk melanjutkan langkahnya. Jurang yang sangat dalam kini tepat berada di depan mata mereka.

Malam yang sangat gelap gulita membuat tak seorang pun berani untuk mengecek keadaan Kak Shania dan Pak Karyo di bawah sana. Keadaan malam itu sangat gelap seperti tak ada satu pun cahaya yang datang untuk sekedar menyapa. Bulan kala itu tertutup oleh kabut yang menyelimuti langit. Pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi mencakar langit membuat kesan malam yang sesungguhnya lebih hidup.

Esoknya, seorang warga yang sedang mencari kayu bakar di sekitar tempat itu menemukan ponsel Kak Shania. Pada saat itu, mobil yang ditumpangi kak Shania dan pak Karyo sudah tak berbentuk lagi. Warga tersebut segera menghampiri mobil itu, namun sayang tak ada jejak apapun dari kak Shania. Hanya ada sebuah potongan kain berwarna biru tosca. Potongan kain tersebut berasal dari baju yang dikenakan kak Shania, sedangkan Pak Karyo tergeletak tak sadarkan diri di dekat mobil.

Bagikan :