Semilir angin yang menghantam membuat tubuh ini nyaman. Hal ini membuatku merasa seakan melupakan seluruh masalah yang pernah aku alami. Semua masalah terasa pergi terhempaskan oleh angin, melayang-layang di udara untuk sekedar melambaikan tangan untuk berpamitan, lalu kembali terbang melayang hingga hilang dari pandangan.

        “Udah jam berapa ya?” aku memasukkan tanganku pada saku celana. “Handphone?” aku kaget bukan main, ponselku ketinggalan di Vila. Aku membalikan badan berniat akan pulang kembali ke Vila.

        Mataku terbelalak begitu melihat ada dua ruas jalan di hadapanku. “Tadi aku lewat mana? Kiri apa kanan ya?” aku menggaruk-garuk kepala. Entah apa yang membawaku ke tempat seperti ini. bahkan aku sampai lupa jalan untuk kembali ke vila, ponsel juga tak kubawa. Bagaimana aku bisa pulang ke rumah? Atau aku akan tetap berada di sini sampai matahari terbenam, sampai sang rembulan menampakkan dirinya, bahkan sampai benar-benar gulita?

        Keringat dingin mengucur deras di pelipisku. Apa ini yang dulu Kak Shania rasakan? Saat kecelakaan hari itu? Aku menelan ludah pasrah. Gemetar bukan main.

        “Hey! Kamu!” seorang lelaki yang terlihat seusia denganku menghampiri, ia membawa senapan. Apa dia adalah seorang pemburu? Atau lebih dari sekedar itu? Ah, tapi dia masih terlalu kecil untuk menjadi seorang pemburu.

        “Jangan mendekat!” aku melangkah mundur. Ketakutan menjalar ke seluruh sel dalam tubuhku. Namun, orang asing ini tetap mendekat. Sorot matanya begitu tajam, lebih tajam dari pedang.

        Dia semakin mendekat. Mataku seakan memburam oleh genangan air mata, lidahku terasa kelu untuk berteriak, kakiku terasa kaku untuk melangkah. Dia semakin mendekat….

Bagikan :