“Kamu sedang apa di sini? Perempuan tak pantas berada di tempat liar ini. Kamu pulang saja ke rumah!” tegasnya.

        Aku menatapnya. Aku tak menyangka ia akan selembut ini. Namun kakiku tetap siaga untuk memasang ancang-ancang untuk berlari jika ada sesuatu yang tidak beres. “Aku akan pulang. Lagipula aku tak akan berlama-lama di tempat ini!”

        “Kamu tersesat?” tanyanya tanpa ragu.

        Oh Tuhan, dia peramalkah? Apa dia mampu membaca pikiranku? Aku akan tetap berhati-hati dengan orang yang berada di hadapanku ini. Dia terlihat seperti seorang lelaki yang sangat dingin, meskipun dengan keramahannya. “A..a..aku tidak tersesat. Sok tahu!”

        “Oh. Cepat pulang!” suruhnya sambil berlalu.

Dia masuk kembali ke dalam rimbunnya hutan. Ia seakan ditelan oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi itu. Setidaknya hatiku merasa sedikit lega. Lelaki misterius itu kini telah berada jauh dariku. Syukurlah.

        Aku cemas pada diriku sendiri. Aku tak ingin mati konyol di tengah hutan seperti ini. Aku ingin pulang. Aku yakin Bunda dan Ayah sedang menungguku untuk makan siang bersama. Apa yang harus aku lakukan? Tak ada seorang pun yang muncul setelah lelaki tadi.

Aku menoleh ke belakang. Mataku terbelalak begitu melihat….

“Anjing…” aku berlari sekuat tenaga. Gonggongan anjing yang berlari di belakangku membuat aku gemetar. Langkahku perlahan mulai tak seimbang. Jalanan yang naik turun membuat energiku terkuras cukup banyak. Anjing itu berlari sangat cepat, berusaha mengejarku, gonggongannya terdengar sangat buas. Ya Tuhan, tadi orang misterius, dan sekarang… hewan buas ini? aku berlari terus tanpa mempedulikan jalanan yang aku lalui.

“Awww!” teriakku. Seseorang menyeretku dan membungkam mulutku. Aku menatapnya. “Kamu?”

Bagikan :