“Seharusnya kamu bilang bahwa kamu memang tersesat. Ini hutan! Dasar perempuan! Makhluk sepertimu memang sangat sulit untuk diberikan saran.” Tegas lelaki itu. Lelaki misterius yang tadi menghampiriku. “Aku antar kamu ke Vila.” Dia menarik tanganku.

Dia tahu aku adalah orang asing di sini? Dia tahu bahwa aku adalah anak vila? Apa dia memang bisa membaca pikiran? Entahlah.

“Dari mana kamu tahu aku orang asing?”

“Siapa pun tahu bahwa kamu orang asing!” cetusnya

Aku hanya menelan ludah. Keheningan panjang terjadi. Aku hanya mengikuti kemana ia membawaku, aku yakin dia adalah orang baik. Tapi siapa dia? seorang remaja lelaki dengan tampang dingin meskipun ia berlaku cukup ramah. Bahkan kepada orang asing sepertiku.

Tak terasa di depan sudah nampak vila tempat aku menginap selama liburan.

“Kamu menginap di daerah sini?” tanyanya

Aku mengangguk

“Pulanglah! Jangan mencoba jalan-jalan sendiri tanpa ditemani seseorang yang mengetahui tentang tempat ini. Karena itu berbahaya, pe’a!” Ia membalikan badannya dan berlalu.

Aku yang masih terkesima hanya mampu menatapnya dan membiarkannya berlalu. Siapa kira-kira orang itu? Tapi, sepertinya dia juga bukan warga asli daerah ini. Dia terlihat sangat dingin, namun sepertinya… jauh di lubuk hatinya, ia adalah seseorang yang sangat hangat dan ramah. Aku yakin.

Menyadari aku telah sampai di tempat ini berkat bantuannya, aku terpikir sesuatu. Ya, mengucakapkan terima kasih. “Hey! Terima Kasih…” teriakku. Aku masih penasaran siapa lelaki itu, tapi dia tak menoleh sedikit pun untuk membalas ucapan terima kasihku.

Bagikan :