Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi.

***

Setibanya di Vila aku segera menceritakan semua yang terjadi padaku hari ini. Bunda dan Ayah ternyata sangat tertarik pada lelaki yang menyelamatkanku itu. Ayah ingin mengucapkan banyak terima kasih pada lelaki itu, karena ia telah menyelamatkanku. Ayah tak mau aku bernasib sama seperti Kak Shania.

        “Selamat Sore!” Paman Ekhsan duduk di sebelahku. “Paman bawain ini buat Sonia!” ia menaruh bungkusan kecil di atas meja.

        Aku hanya terdiam melihatnya, lalu perlahan senyum mengembang di wajahku. “Benarkah?”

        Paman Ekhsan mengangguk

        Aku mengambil bungkusan tersebut dan membukanya. “Paman! Ini… kalung yang waktu itu aku bilang bagus, kan? Paman harganya sangat mahal. Paman membelikannya untuk Sonia?” aku terkesima melihat kalung berlian di tanganku. Paman Ekhsan memang sangat baik padaku. Ia sudah menganggapku sebagai putrinya sendiri. Karena Bibi Syahira tak sempat memberikan putra atau putri untuknya. Bibi Syahira meninggal setelah 3 tahun menikah dengan Paman Ekhsan.

Paman Ekshan sangat mencintai Bibi Syahira, itulah sebabnya meskipun Bibi Syahira telah meninggal Paman tak pernah berniat untuk menikah lagi. Baginya, cintanya hanya Bibi Syahira. Dan karena itu, ia menganggapku sebagai anaknya sendiri.

        “Kamu suka?” Paman tersenyum

        Dengan malu-malu aku menganggukan kepala.

        Paman terlihat sangat senang. “Syukurlah, Anakku!” respon paman.

Bagikan :