“Nicholas… Kalau kamu persiapkan dari sekarang, kan lebih bagus. Coba contoh kedua kakakmu, kuliah mereka bagus, lulus sesuai target dengan IPK tinggi,” kata Dad.

“Haaaahhhh…” Nic menghela napas berat. “Iya, Dad… Aku usahain ya. Tapi aku ga mau didesak terus. Nanti aku bisa stres,” katanya.

“Baguslah… Dad ngomong begini bukan bermaksud bandingin kamu sama kakak-kakakmu. Dad cuma pengen kamu sukses,” kata Dad. Nic mengangguk pelan tanda mengerti.

Aku yang hanya mendengar percakapan mereka sedari tadi, rupanya baru sadar kalau sarapanku sudah habis. Aku pun bangkit dan pamit kepada Mom, Dad, dan juga Nicholas. Karena gemas melihat Nicholas yang sedari tadi cuek-cuek saja, aku mengacak rambutnya dan langsung lari. Nicholas yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa duduk di tempat dan menggeram kesal.

Berangkat ke kantor, aku mengendarai mobilku. Yap, akhirnya setelah aku lulus kuliah, Dad baru mengizinkanku mengendarai mobil sendiri. Memang butuh waktu lama bagiku untuk belajar mengendarai mobil karena aku belum punya pengalaman. Untung saja tiga pria kebanggaanku, yaitu Dad, Kak James, dan juga Nicholas selalu sabar dan secara bergantian mengajariku. Sebenarnya tidak semua yang sabar, karena Nicholas selalu kesal dan memarahiku. Jadilah kami berdua terus adu mulut setiap kali ia mengajariku mengendarai mobil.

Seperti biasa, jalan pasti macet. Tapi untung saja aku bisa datang ke kantor tepat waktu. Aku  masuk ke dalam lift untuk menuju ruang divisi tempatku berada.

Bagikan :