Aku mengangguk pelan tanda mengerti, lalu berjalan menuju pintu ruangan Pak Jaya, kemudian mengetuknya.

“Masuk…” Kata Pak Jaya dari dalam ruangan. Aku pun masuk, lalu menutup pintunya kembali.

“Bapak mencari saya?” tanyaku.

“Oh iya… Ayo sini duduk…” Kata Pak Jaya sambil tersenyum lebar sambil menunjukkan kursi yang berada di depan meja kerjanya. Aku menurutinya dan duduk di depan meja kerja Pak Jaya, berhadapan langsung dengannya.

“Audrey Harper… Kenapa kamu tidak bilang sama saya kalau kamu salah satu dari anaknya Johnny?” tanya Pak Jaya sambil tertawa kecil.

“Hah?” Aku langsung kebingungan sambil mengernyitkan kening.

“Kamu ini. Coba dari awal kamu kasih tahu ke saya kalau kamu anaknya Johnny. Saya jadi bisa suruh bawahan saya untuk menaruh kamu di jabatan mana aja yang kamu mau,” katanya.

“Mmm… Itu, itu…” Aku pun jadi tidak bisa menjawab.

Padahal tujuanku bekerja di sini agar aku bisa mandiri. Tapi kenapa Pak Jaya jadi ngomong begini?

“Jadi begini Audrey, dulu Papa kamu sama saya pernah kerja sama. Lebih tepatnya, dia pernah membantu saya waktu kondisi perusahaan saya sedang sulit. Nah, sebagai tanda balas jasa dan juga terima kasih, saya akan menawarkan kamu jabatan,” katanya.

“Ma-maksudnya?”

Bagikan :