“Maksud saya, kamu tidak perlu bekerja menjadi pegawai biasa di divisi General Affair. Saya akan memberikan kamu jabatan yang lebih prestigious. Karena selain anak perempuan Johnny, kamu sepertinya punya bakat dan potensi yang besar,” jelasnya.

“Maaf, Pak. Bukannya saya lancang, tapi mohon maaf, Pak… Saya tidak bisa menerima tawaran Bapak,” kataku.

Pak Jaya tampak terkejut. “Loh, kenapa?”

“Saya ingin memulai karir saya dari bawah, Pak. Saya ingin belajar dan punya pengalaman,” jawabku. Pak Jaya diam sejenak, lalu ia mengangguk-angguk.

“Hmmm… Begitu rupanya. Bagus juga, saya setuju sama jalan pikiran kamu. Kamu mengingatkan saya dengan anak saya,” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi kamu yakin? Sayang loh kalau tawaran saya ini dilewatkan begitu saja.”

“Saya yakin, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak,” kataku.

“Oh tidak… Jangan berterima kasih. Seharusnya saya yang berterima kasih…” Pak Jaya tersenyum lebar. “Oh iya, kamu lulusan fakultas seni rupa dan desain, bukan?”

“Iya, Pak,” jawabku.

“Tapi kamu diterima di divisi General Affair?”

“Betul, Pak.”

Pak Jaya kemudian diam, ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan aku, bingung harus bagaimana.

Bagikan :