Ketika meja ruang tamu akan dilompati untuk ketiga kalinya, Anya tersandung dan lututnya jatuh mengenai lantai. Tak dapat dihindari, tangisan kencang Anya langsung mengisi udara di ruangan tamu sampai ke dapur, ruang dimana Elena, sang mami, sedang menyiapkan makan siang.

“Willy!!!” teriak Elena dari dapur. “Adek kenapa?”

Si Abang yang dipanggil Willy itu menyahut,” Nggak apa-apa kok, Mi.”

“Beneran nggak ada apa-apa?” Elena yang sudah berada di ruang tamu segera merengkuh Anya dan mengusap-usap lutut putrinya. “Mami kan sudah seringkali nasehatin, jangan ajarin adekmu main mainan mobil, biar dia nggak jadi tomboi.”

Setelah selesai membalut lutut Anya dengan balsem, Elena kembali ke dapur.

“Ssttt…Dek, mau maen di luar nggak?” bisik Willy ke telinga Anya.

Anya hanya mengangguk polos.

“Tapi jangan bilang-bilang Mami ya,” bisik Willy lagi.

Willy mengeluarkan sepeda dari pintu garasi samping lalu menutup pintunya pelan-pelan. “Ayo Dek!” ajak Willy sambil memberi isyarat mendekat.

Bagikan :