Setelah Anya duduk di boncengan belakang, Willy segera mengayuh sepedanya menuju taman kompleks yang letaknya beberapa blok dari rumah mereka.

Meski cukup terik, cuaca tengah hari yang cerah berangin membuat taman kompleks tetap ramai dipenuhi oleh anak-anak yang sedang bermain layang-layang. Para pedagang es krim keliling dan minuman dingin juga laris manis menjajakan dagangannya di pinggir taman.

Anya berdiri tak jauh dari sepeda mereka sambil mengamati Willy yang sudah berbaur dengan anak-anak lainnya di taman kompleks. Tiba-tiba ada layang-layang putus yang terbang tertiup angin dan nyangkut di pohon taman.

Dengan langkah kecilnya, Anya berlari mengejar layangan ke arah pohon tersebut. Tak peduli dengan celana pendek putihnya yang telah kotor, Anya terus naik memanjat batang demi batang sambil tangannya berusaha menggapai layang-layang itu. Ketika jari-jarinya berhasil menyentuh layang-layang itu, kaki Anya kehilangan pijakan, membuat dirinya jatuh bebas ke tanah dengan posisi terduduk.

“Aduh!” Anya meringis sambil menepuk-nepuk pantatnya yang sakit.

“Hei! Itu layanganku!” Seorang anak lelaki kecil yang tampan sebaya Willy datang menghampiri Anya dan menunjuk ke arah layangan di tangan Anya.

Bagikan :