“Bukan! Ini layanganku!” Anya mendekap layangannya erat-erat. Matanya memandang nanar pada anak lelaki itu. Dia tak rela layang-layang yang sudah diambilnya dengan susah payah itu berpindah tangan.

Anak lelaki itu merengut. Dia mencoba merebut layangan dari tangan Anya dengan paksa. “Hei, jangan coba-coba ambil layanganku! Kamu kan cewek, kok suka layang-layang, sih?”

Anya berkelit setiap kali anak lelaki itu berusaha mengambil layangan dari tangannya. “Biarin! Emang suka!”

“Dasar tomboi!” seru anak lelaki itu sambil menarik kepang rambut ekor kudanya. “Jadi anak cewek itu harus lemah lembut!” Dia lantas berlalu pergi tanpa niat merebut layangan itu lagi.

“Dek, tadi itu kenapa?” tanya Willy yang sudah berdiri di samping Anya beberapa menit berselang.

“Abang lihat anak barusan? Dia mau rebut layang-layang putus yang sudah berhasil kuambil di atas pohon tadi. Masa dia ngaku itu layangannya? Huh!” Pipi chubby Anya semakin menggembung tatkala dia memasang wajah cemberut.

“Tapi itu emang layang-layangnya, Dek!” timpal Willy.

Bagikan :