Anya kaget campur bingung. Namun kemudian dia memasang tampang cuek lagi. “Biarin! Itu akibatnya karena sudah ngatain aku tomboi.”

“Tadi Adek beneran udah manjat pohon?” ulang Willy memastikan.

Anya mengangguk kuat.

Willy memandang ke arah puncak pohon.

“Sampai setinggi itu?” tanyanya lagi.

Anya mengangguk sambil tersenyum bangga.

“Ck…ck…, Dek…Dek..! Lain kali panggil Abang aja, ya. Ntar kalo ketahuan Mami, Abang pasti dimarahin.”

“Oke. Lain kali Anya akan menjadi anak perempuan yang baik.”

Willy tersenyum geli mendengar janji Anya.

“Yuk, kita pulang! Lapar, nih.” Anya berlari lebih dulu ke arah sepeda mereka dan duduk manis di boncengan belakang sambil memeluk layang-layangnya.

Bagikan :